Koran Muslim

| Rabu, 19 Oktober 2011

Koran Muslim


Hasbunallah wa Ni’mal Wakiil

Posted: 19 Oct 2011 05:02 PM PDT

hasbunallahAlhamdulillah, wash sholaatu was salaamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala aalihi wa shohbihi.

Kalimat ini termasuk dzikir sederhana, namun mengandung makna yang luar biasa. Dzikir ini menandakan bahwa seorang hamba hanya pasrah pada Allah dan menjadikan-Nya sebagai tempat bersandar.

Allah Ta’ala menceritakan mengenai Rasul dan sahabatnya dalam firman-Nya,

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, “Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka”, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “hasbunallah wa ni’mal wakiil [cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung]. ” (QS. Ali ‘Imron: 173)

Kata sahabat Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa “hasbunallah wa ni’mal wakiil” adalah perkataan Nabi ‘Ibrahim ‘alaihis salaam ketika beliau ingin dilempar di neraka. Sedangkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan kalimat tersebut dalam ayat,

إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ

“Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka,” maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (HR. Bukhari no. 4563)

Renungkanlah Maknanya!

Ibnul Jauzi dalam Zaadul Masiir berkata bahwa maksud “hasbunallah” ialah Allah-lah yang mencukupi segala urusan mereka. Sedangkan “al wakiil“, kata Al Faro’ berarti orang yang mencukupi. Demikian pula kata Ibnul Qosim. Sedangkan Ibnu Qutaibah berkata bahwa makna “al wakiil” adalah yang bertanggung jawab (yang menjamin). Al Khottobi berkata bahwa “al wakiil” adalah yang bertanggung jawab memberi rizki dan berbagai maslahat bagi hamba.

Dalam tafsir Al Jalalain disebutkan makna dzikir di atas ialah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar dalam segala urusan.

Syaikh As Sa’di dalam kitab tafsirnya memaparkan, “Maksud ‘hasbunallah‘ adalah Allah-lah yang mencukupi urusan mereka dan ‘ni’mal wakiil’ adalah Allah-lah sebaik-baik tempat bersandar segala urusan hamba dan yang mendatangkan maslahat.”

Syaikh Al Imam Al ‘Arif rahimahullah berkata bahwa dalam hadits di atas adalah isyarat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada para sahabatnya agar mereka rujuk (kembali) pada Allah Ta’ala, bersandar pada-Nya, sadar bahwa tidak ada daya dan kekuatan melainkan dari-Nya. … Kalimat “hasbunallah” adalah tanda bahwa hamba benar-benar butuh pada Allah dan itu sudah amat pasti. Lalu tidak ada keselamatan kecuali dari dan dengan pertolongan Allah. Tidak ada tempat berlari kecuali pada Allah. Allah Ta’ala berfirman,

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ

Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. ” (QS. Adz Dzariyat: 50) (Bahrul Fawaid karya Al Kalabadzi)

 

Allah-lah Yang Mencukupi

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

"Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. Ath Tholaq: 3). Al Qurtubhi rahimahullah menjelaskan pula tentang surat Ath Tholaq ayat 3 dengan mengatakan, "Barangsiapa yang menyandarkan dirinya pada Allah, maka Allah akan beri kecukupan pada urusannya."

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

Barangsiapa menyandarkan diri pada sesuatu, maka hatinya akan dipasrahkan padanya” (HR. Tirmidzi no. 2072, hadits ini hasan kata Syaikh Al Albani). Artinya di sini, barangsiapa yang menjadikan makhluk sebagai sandaran hatinya, maka Allah akan membuat makhluk tersebut jadi sandarannya. Maksudnya, urusannya akan sulit dijalani. Hati seharusnya bergantung pada Allah semata, bukan pada makhluk. Jika Allah menjadi sandaran hati, tentu segala urusan akan semakin mudah. Karena Allah-lah yang mendatangkan berbagai kemudahan dan segala sesuatu akan menjadi mudah jika dengan kehendak-Nya.

Ya Allah … Engkau-lah yang mencukupi segala urusan kami, tahu manakah yang maslahat dan yang mengatur segala rizki kami.

Wallahu waliyyut taufiq was sadaad. Wa shallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala aalihi wa shohbihi wa sallam.

 

@ Ummul Hamam, Riyadh-KSA, saat-saat bersama Rumaysho, Ruwaifi’ dan istri tercinta

21 Dzulqo’dah 1432 H (19/10/2011)

www.rumaysho.com


Sumber

Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

Satu Dari Buah Tawakkal, Dicukupkan Segala Urusan Kita
Sudah Mantapkah Keyakinanmu…?
Do’a Agar Diberi Kemudahan Segala Urusan
Khutbah Idul Adha 1431 H: Musibah Dan Bala Bencana, Peringatan Atau Adzab Allah ?
Menatap Ayat-Ayat Allah
Akhlaq yang Baik (bagian ke-5): Kelembutan dalam Segala Urusan
Ucapan Selamat Hari Raya Ied Dari Amir Imarah Islam Afhanistan Mullah Mohammad Omar Mujahid – Berita
Bersandar diri atas rahmat-Nya
Buah dari Mengikuti Kebaikan dengan Kebaikan Lainnya
Kembali kepada Ramadhan Kaum Salaf

An Nahda Pemilu Tunisia Rawan Manipulasi

Posted: 19 Oct 2011 01:01 PM PDT

DK PBB Siap Gelar Voting Palestina pada 11 Nopember

Posted: 19 Oct 2011 01:01 PM PDT

Meninggalkan Shalat Bukan Perkara Sepele

Posted: 19 Oct 2011 11:03 AM PDT

Sungguh kebanyakan kaum muslimin sekarang ini telah meremehkan masalah sholat, bahkan mengabaikannya. Tidak jarang sebagian mereka sudah telah benar-benar meninggalkan sholat karena meremahkannya.

Ini adalah permasalahan serius sekali yang telah diujikan kepada manusia dan juga diperselisihkan oleh para 'ulama dan para imam kaum muslimin yang terdahulu maupun sekarang.

 

Al Imam Ahmad bin Hanbal berkata : "Orang yang telah meninggalkan sholat telah kufur, kufur yang mengeluarkan seseorang dari agama. Dia dibunuh apabila tidak segera bertaubat atau mengerjakan sholat."

Imam Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi'iy berkata : "Dia orang yang fasik akan tetapi tidak dikafirkan." Kemudian mereka bertiga berselisih, Malik dan Syafi'I berkata :"Dia dibunuh sebagai hukuman". Dan Abu Hanifah berkata :"Dia dicela (ditegur) dan tidak dibunuh."

Dikarenakan ini adalah suatu permasalahan yang dipersilisihkan, wajib dikembalikan kepada Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, sebagaimana firman Allah dalam surat An Nisaa' : 59 : "Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur'an) dan Rosul (sunnah-nya), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian)."

Apabila kita kembalikan semua perselisihan tersebut kepada Al Qur'an dan As Sunnah maka akan kita dapatkan bahwa Al Qur'an dan As Sunnah menunjukkan kekufuran orang yang meninggalkan sholat yaitu kufur yang mengeluarkan seorang muslim dari Islam.

Dalil-dalil dari Al Qur'an

1. Dalam surat At Taubah ayat 11, Allah berfirman,"Jika mereka (orang-orang musyrikin) bertaubat, mendirikan sholat dan menunaikan zakat, maka mereka itu adalah saudara-saudaramu seagama."

    Dalam  ayat ini Allah mensyaratkan terjadinya persaudaraan antara kita dengan orang-orang musyrikin dengan tiga syarat, yaitu :

    a. Orang-orang musyrikin tersebut bertaubat dari kesyirikan,

    b. Menegakkan shalat, dan

    c. Menunaikan zakat.

      Seandainya mereka (orang-orang musyrikin) bertaubat dari kesyirikan tetapi tidak mengerjakan sholat dan juga tidak menunaikan zakat maka belumlah menjadi saudara kita.

      Seandainya mereka mengerjakan sholat tetapi tidak menunaikan zakat maka mereka juga belum menjadi saudara kita. Akan tetapi pendapat yang unggul, dia tidak dikafirkan (karena tidak menunaikan zakat) akan tetapi diberi hukuman yang berat sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abu Huroiroh, bahwa Nabi menyebutkan hukuman terhadap orang yang menahan zakat, dan akhir hadits disebutkan : "kemudian dia akan melihat jalannya, bisa jadi ke surga dan bisa jadi juga ke neraka."

      Persaudaraan (seagama) tidaklah akan hilang kecuali bila seseorang keluar dari agama secara keseluruhan, bukan karena suatu kefasikan dan bukan karena kufur duuna kufrin (bukan kufur akbar).

      2. Dan dalam Surat Maryam ayat 59 – 60, Allah berfirman,"Maka datanglah sesudah mereka (orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah), pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka mereka kelak akan menemui kesesatan. Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal sholih, maka mereka itu akan masuk surga dan tidak teraniaya (dirugikan) sedikitpun."

        Dalam ayat yang kedua ini, Allah berfirman berkenaan dengan  mereka yang menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsu : "kecuali orang yang bertaubat dan beriman …". Ini menunjukkan bahwa ketika mereka menyia-nyiakan sholat dan memperturutkan hawa nafsu, tidak dalam keadaan beriman.

        Dalil-dalil dari As Sunnah

        1. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Al Imaan dari Jabir bin Abdillah, Rasulullah bersabda, "Sesungguhnya batas seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan sholat."

        2. Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidziy, An Nasaaiy, dan Ibnu Majah dari Buroidah bin Al Hasib, dia berkata : Aku mendengar Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Perjanjian yang memisahkan antara kita dengan mereka (orang-orang kafir) adalah sholat. Maka barangsiapa yang telah meninggalkan sholat sungguh dia telah kufur."

          Apabila ada yang berkata : Apakah nash-nash yang menunjukkan kepada kekufuran orang yang meninggalkan sholat tidak bisa dibawa kepada orang yang meninggalkannya karena mengingkari kewajibannya ?

          Jawab : tidak bisa karena terdapat dua bahaya :

          1. Merusak bentuk (sifat) yang telah dipilih dan dihukumi oleh Allah. Sesungguhnya Allah telah menetapkan hukum kufur terhadap orang yang meninggalkan sholat tanpa ada kalimat "mengingkari kewajiban". Allah tidaklah berfirman :" Jika mereka (orang-orang musyrikin) bertaubat, dan mengakui akan kewajiban sholat …" dan Rasulullah sholallahu 'alaihi wa sallamtidak pula bersabda : "Sesungguhnya batas seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran adalah mengingkari kewajiban sholat."

            Seandainya seperti ini yang dimaksudkan oleh Allah dan Rasul-Nya berarti telah menyelisihi penjelasan yang dibawa oleh Al Qur'anul Karim, di mana Allah berfirman :"Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Qur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu." (QS An Nahl : 89)

            2. Memilih bentuk dan menetapkan hukum yang mana tidak dipilih oleh Allah.

              Mengingkari kewajiban sholat lima waktu berarti menetapkan kekufuran seseorang yang tidak boleh beralasan dengan ketidak tahuannya terhadap hukum sholat. Baik dia telah menegakkan sholat atau meninggalkannya.

              Jelaslah bahwa meninggalkan sholat tanpa udzur merupakan suatu kekufuran yang mengeluarkan seseorang dari agama sesuai dengan dalil-dalil ini. Dan dapat pula diperkuat dengan ijma' para sahabat sebagaimana Abdullah bin Syaqiq berkata : "Para sahabat Nabi tidak pernah menganggap suatu amalan yang apabila ditinggalkan menyebabkan kekufuran kecuali sholat."

              Walllahu waliyyut taufiq.

               

              Tulisan lawas Muhammad Abduh Tuasikal

              Artikel www.remajaislam.com


              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              Kafarat meninggalkan solat jumat
              Peringatan Bagi yang Suka Meninggalkan Shalat
              Meninggalkan Shalat Jum'at Gara-Gara Hujan & Salju
              Peringatan Bagi Siapa yang Suka Meninggalkan Shalat
              Enam Perkara dalam Memperbaiki Shalat
              Bolehkah Meninggalkan Shalat Jum’at Hanya Karena Hujan dan Salju?
              Meninggalkan Citibank, Meninggalkan Bank
              Komunitas Wisata Muslim Fasilitasi Wisata Tanpa Meninggalkan Shalat
              Meninggalkan Isteri lebih dari 2 Tahun
              Batas Waktu Shalat Isya

              25 Calhaj Meninggal Dunia di Tanah Suci

              Posted: 19 Oct 2011 11:03 AM PDT

              25 Calhaj Meninggal Dunia di Tanah Suci

              Mekkah (MCH)–Calon haji meninggal dunia terus bertambah. Hingga kemarin sore waktu setempat 25 calhaj meninggal dunia. Calhaj yang meninggal adalah Saini binti Tarja, 54, dari kloter 45 embarkasi Solo asal Cilacap, Jawa Tengah, meninggal di Makkah pada 18 Oktober pukul 07.40.

              Kemudian Romlah binti Mohammad Sirat, 67 kloter 18 embarkasi Jakarta, asal Lampung Tengah, Lampung, meninggal di Madinah pada 18 Oktober pukul 09.10 dan Asmani bin Muh Zahir, 71, kloter 39 Surabaya asal Lombok Tengah, NTB, meninggal pada 19 Oktober pukul 09.30 di Madinah. Sebelumnya 21 calhaj meninggal dunia.

              Namun, data Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu menyebutkan masih 24 calhaj meninggal. Seorang calhaj yang meninggal dunia, Ruslan datanya belum masuk. “Ya ada yang meninggal, Ruslan. Tapi, detailnya jatuh atau bagaimana saya belum tahu, karena laporannya belum masuk. Coba tanya pengamanan,” ujar Kepala Daerah Kerja Madinah Akhmad Jauhari ketika dihubungi MCH kemarin.

              Kasi Pengamanan Daerah Kerja Madinah M Yahdi menuturkan, dugaan sementara, Ruslan jatuh karena terpeleset. Dia menduga, setelah rekan-rekannya ke masjid, dia ingin keluar kamar. Namun, data Ruslan di Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu Kemenag belum ada. “COD-nya belum keluar, jadi belum masuk,” ujar Jauhari.

              Ruslan yang berusia 89 dikabarkan meninggal setelah jatuh dari sebuah celah sempit di lantai 8 Hotel Borg Almokhtarah, Madinah, Selasa malam (18/10).

              Rekan sekamar Ruslan di lantai 8, Elon, menuturkan, mungkin karena sudah uzur, almarhum sering bicara sendiri. “Kadang ngelantur,” katanya, Rabu kemarin. Elon menuturkan, kloter Ruslan adalah 41 JKS. (m izzul mutho)

              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              Jatuh dari Lantai 8, Seorang Calhaj Meninggal
              Calhaj Mulai Berangkat ke Tanah Suci, 2 Oktober
              Calhaj yang Wafat di Madinah Menjadi 7 Orang
              48 Ribu Jamaah Sudah Berada di Tanah Suci
              249 Kloter Jamaah Tiba di Tanah Suci
              22 Calhaj DKI Jakarta Batal ke Tanah Suci
              Jenazah Calhaj Meninggal di Pesawat Dimakamkan Siang Ini
              Lagi, Satu Jamaah Meninggal
              Meninggal di Tanah Suci, Harapan Terbesar Jamaah Haji
              2 Oktober Jamaah Haji Mulai Berangkat ke Tanah Suci

              Calhaj Non Kuota Tempuh 20 Jam ke Arab Saudi

              Posted: 19 Oct 2011 11:03 AM PDT

              Calhaj Non Kuota Tempuh 20 Jam ke Arab Saudi

              Jeddah (MCH)–Berbeda dengan calon jamaah haji reguler dan haji plus, calon jamaah haji non kuota menempuh perjalanan dua kali lipat. Mereka menempuh perjalanan selama 20 jam lebih untuk tiba di Jeddah. Sedangkan calhaj reguler dan plus hanya 8 jam saja.

              Sabani (51), jamaah non kuota dari Ipah Grup, mengaku menempuh perjalanan sekira 21 jam dari Jakarta hingga ke Jeddah. Dari Kalimantan, Sabani terbang ke Jakarta. Kemudian dari Jakarta Selasa 18 Oktober, pukul 15.00 WIB, dengan pesawat Cathay Pasific, dan 68 anggota rombongan lainnya terbang menuju Jeddah.

              Tapi penerbangan Sabani tidak langsung ke Jeddah, melainkan transit terlebih dahulu di Hong Kong. Di sini, dia dan rombongan menuju ruang transit selama 1 jam lebih. Kemudian diterbangkan kembali dan transit di Dubai. Tapi, transit kali ini mereka hanya menunggu di dalam pesawat dan barulah terbang ke Jeddah.

              Mereka baru tiba di Jeddah sekitar pukul 08.00 waktu Arab Saudi atau 12.00 WIB, Rabu (19/10/2011). Menurut kepala rombongan, Rusbaini Arifin, mereka tidak mendapatkan pesawat yang langsung menuju Jeddah. Karena pesawat Garuda sudah dibooking untuk jamaah haji reguler dan haji plus.

              “Semua pesawat sudah penuh, makanya kita naik pesawat lain,” kata pemimpin rombongan haji non kuota Ipah Grup.

              Kepala Daker Jeddah, Ahmad Abdullah, mengungkapkan tiap tahun ada saja warga negara Indonesia yang menjalani ibadah haji melalui non kuota. Tahun lalu, ditemukan 3.000 orang ikut jamaah haji non kuota. Mereka tidak memiliki maktab dan diselipkan pihak muassasah ke maktab 17.

              Kejadian ini membuat Dirjen dan Sekjen Kementerian Agama dan menolak tindakan pihak muassasah tersebut dan meminta jamaah non kuota dikeluarkan dari maktab 17, karena di maktab tersebut sudah terdapat jamaah reguler yang sudah terdaftar di Kementerian Agama.

              Sejauh ini, pihak kementerian agama hanya bisa menyadarkan kepada warga negara Indonesia agar tidak menjalankan haji non kuota. Karena kondisi mereka tidak terjamin selama berada di Arab Saudi. Banyak jamaah haji non kuota ini terlantar dan tidak tertangani dengan baik oleh penyelenggaranya. Penyelenggara haji non kuota ini juga tidak terdaftar di Kementerian Agama. (syukri)

              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              200 Calhaj Khusus Tiba di Arab Saudi
              Arab Saudi Siap Tambah Kuota Haji Indonesia
              Kuota Haji 2011 Tergantung Arab Saudi
              Haji Reguler dapat Tambahan Kuota 7 Ribu
              28.894 Calhaj Telah Tiba di Arab Saudi
              Tambahan Kuota Haji Tunggu Konfirmasi Arab Saudi
              Menag: Indonesia Dapat Tambahan Kuota 10.000 Orang
              Alhamdulillah… Kuota Calhaj Kota Bekasi Ditambah
              Muslim Tumbuh Pesat, Mufti Rusia Minta Saudi Tambah Kuota Haji
              40 Persen Calhaj Indonesia Sudah di Arab Saudi

              Living Cost Calhaj Penjual Pecel Dirampas

              Posted: 19 Oct 2011 11:02 AM PDT

              Living Cost Calhaj Penjual Pecel Dirampas

              Mekkah (MCH)—Sungguh kasihan nasib Miase bin Masnasih Buntung,72, dan istrinya Saidah Binti Abdul Hamid yang berasal dari Nusa Tenggara Barat kemudian tinggal di Kalimantan Tengah. Keduanya yang berasal dari kloter 9 embarkasi Solo menjadi korban perampasan usai melaksanakan sai Selasa (18/10).

              Sekitar 2900 riyal amblas digondol pelaku yang berjumlah 6 orang.”Untuk membayar dam saja sudah tidak ada,” ujar Miase yang kemarin (19/10) mengaku berpuasa sebagai ganti membayar dam. Menurutnya, uang yang diambil itu merupakan living cost yang masing-masing calon haji (calhaj) dapat1500 riyal. Hanya, Miase sudah menggunakan 100 riyal. Sedangkan living cost yang diberikan kepada istrinya belum digunakan.

              Miase bercerita, setelah selesai sai, dia dan istrinya keluar dari Masjidil Haram. Saat asyik mengobrol berdua dengan bahasa daerah asalnya, Nusa Tenggara Barat, ada seorang pria yang menghampiri dan berkomunikasi dengan bahasa daerah. Pembicaraan pun makin akrab. Tak lama berselang, beberapa kawan pelaku datang. “Jumlahnya ada 6 orang,” imbuhnya. Pelaku awalnya menanyakan isi tas untuk didata. Kemudian beberapa orang memegangi Miase dan lainya mengambil isi tas.

              Sebenarnya, Miase berusaha mengadakan perlawanan. Tapi, karena pelaku jumlahnya banyak dan tenaga kuat, Miase dan istri tidak bisa berbuat banyak. Dalam sekejap, uang untuk bertahan hidup selama menunaikan haji pun amblas. Padahal, dia pergi haji dengan jerih payah hasil dari menanam jagung dan berjualan pecel. Kini, keduanya mengandalkan belas kasihan calon haji lainnya yang berada di pemondokan 416 yang berada di sektor 4.

              Cerita sedih juga datang dari Sujud asal Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darussalam. Pria yang usianya sudah kepala delapan itu juga mengaku kehilangan uang. Namun, pria yang tergabung di kloter 1 Aceh itu belum ingat berapa yang hilang. Untuk sementara, dia mendapat penanganan dokter di sektor 4.

              Terpisah, Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat mengatakan, pihaknya telah berkoordinasi dengan keamanan Masjidil Haram. Selain koordinasi terkait keamanan para calhaj, juga untuk melindungi calhaj yang sudah semakin banyak.”Kami bertemu dengan Kolonel Yahya Musaid Zahrani, komandan keamanan Masjidil Haram. Mereka prinsipnya siap membantu 24 jam. Kondisi calhaj Indonesia menurut mereka, baik-bak saja dan tidak ada masalah yang menyulitkan kerja mereka. Namun, kami minta perlu diantisipasihal-hal yang mengganggu keamanan kepada calhaj itu sendiri,” jelasnya kemarin. (m izzul mutho)

              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              Seorang Calhaj Dirampas, Jemaah Diimbau Tak Banyak Bawa Sangu
              Pakai “Seragam Petugas”, Curi Uang dan HP Calhaj
              Calhaj Aceh Dapat Sedekah 1200 Riyal Per Orang
              Calhaj Tersesat Jalan Capai 50 Orang
              Calhaj Mulai Berangkat ke Tanah Suci, 2 Oktober
              31 Oktober Semua Calhaj Harus Masuk Mekkah
              Kodam III/Siliwangi Lepas 197 Calhaj
              Lokasi Kegiatan Calhaj Berbagai Tempat di Arab Saudi
              Enam Calhaj Belum Lunas BPIH
              Enam Calhaj Belum Lunasi BPIH

              Cegah Kriminalitas, 500 Petugas Keamanan Wanita Saudi Diterjunkan

              Posted: 19 Oct 2011 11:02 AM PDT

              Cegah Kriminalitas, 500 Petugas Keamanan Wanita Saudi Diterjunkan

              Madinah (MCH)- Pemerintah Arab Saudi mengupah 500 tenaga keamanan perempuan untuk membantu jamaah haji perempuan dan untuk mencegah kriminalitas seperti pencopetan dan pencurian di musim haji.

              Mayjen Nasir Al Arfaj, komandan pasukan keamanan haji, menuturkan, tugas 500 personel itu selain melayani di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, juga di tempat suci lainnya seperti di Mina, Arafah dan Muzdalifa. Mereka bertugas untuk membimbing jamaah perempuan, utamanya yang terlantar dan kesasar.

              “Sejumlah personal akan diterjunkan di pintu masuk di Makkah untuk membantu petugas paspor untuk mempercepat prosedur perjalanan dan keamanan,” ujar Al-Arfaj, seperti dilansir Gulf News, Rabu (19/10/2011). Petugas wanita itu juga secara dekat memonitor situasi untuk mencegah pencurian dan pengemis.

              Sementara itu, pada hari Senin (17/10), pasukan keamanan haji melakukan latihan di Masjidil Haram. Para komandan senior hadir dalam latihan yang bertujuan untuk memastikan persiapan pasukan khusus haji untuk mencegah kemungkinan ancaman teroris dan memastikan keselamatan dan keamanan jamaah.

              Latihan ini memiliki arti penting di tengah memburuknya hubungan antara Saudi dan Iran menyusul terkuaknya plot pembunuhan Dubes Saudi untuk AS. Di masa lalu, jamaah Iran membuat pusing pasukan keamanan Saudi ketika mereka mencoba mempolitisasi ibadah tahunan haji dengan melakukan protes anti-AS dan Israel selama pelaksanaan haji.

              Dalam latihan itu digambarkan, serombongan orang melakukan aksi duduk di area antara Hajar Al Aswad dan Rukun Al Yamani, ketika jamaah sedang tawaf mengelilingi Kabah. Pasukan keamanan mampu mengakhiri aksi duduk itu dalam waktu relatif singkat tanpa menyakiti satu pun jamaah yang ada di dalam masjid.

              Dalam latihan itu, pasukan keamanan diperintahkan menggunakan senjata mesin dan amunisi ke target yang tepat dengan akurasi tinggi.

              Di skenario lainnya, satu pasukan diperintahkan menyerbu sebuah bangunan tempat sejumlah `teroris` bersembunyi. Dengan menggunakan megafon, para petugas menyuruh para `teroris` menyerah namun `teroris` menolak dan petugas mulai memuntahkan peluru. Setelah baku tembak, bangunan itu dihancurkan dan `teroris` dipaksa menyerah.

              Sejumlah jenderal yang hadir dalam latihan itu memuji kesiapan pasukan dalam mengantisipasi insiden selama musim haji, yang diperkirakan dimulai awal pertama November 2011.

              Sementara itu, Kolonel Abdullah Al Hamrani, jubir Pasukan Perbatasan di wilayah selatan Asir, menuturkan, pasukannya berhasil menggagalkan upaya penyelundupan di sepanjang perbatasan dengan Yaman. “Sebanyak 1.864 penyusup ditangkap. Disita juga empat senapan AK 47, 68 revolver, 26 senjata dan 10.932 peluru Kalashnikov,” ungkapnya. (Nurul H)

              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              Antisipasi Perampokan di Makkah, 50 Petugas Keamanan Diberangkatkan
              Arab Saudi Turunkan 21.900 Petugas Pengamanan Haji
              Cegah Demonstrasi, Arab Saudi Siapkan 10 Ribu Pasukan Keamanan
              Pemerintah Saudi Tingkatkan Jaminan Keamanan
              50 Petugas Antisipasi Perampokan Jamaah di Makkah
              Petugas Haji Menuju Arab Saudi
              Cegah Ikhtilat, Warga Saudi Desak Pendirian Rumah Sakit Khusus Wanita
              21.900 Petugas Siap Amankan Haji
              50 Petugas Indonesia Antisipasi Perampokan di Makkah
              Rombongan Jemaah Haji Indonesia Diinterogasi Keamanan Arab Saudi, Usai Jumatan

              Harga Tiket “Mashair” 250 Riyal dan Mulai Dijual

              Posted: 19 Oct 2011 11:02 AM PDT

              Harga Tiket “Mashair” 250 Riyal dan Mulai Dijual

              Madinah(MCH)–Tiket untuk menaiki kereta monorel “Mashair” akan dibuka mulai 25 Oktober hingga 3 Nopember 2011. Harga Tiker 250 riyal dan hanya diperuntukan peruntukan bagi perusahaan-perusahaan haji domestik, misi haji luar negeri dan departemen-departemen pemerintahan saja. Hal itu diumumkan petugas penjual tiket Farred Al Ghamdi seperti dilansir situs web Arabnews, belum lama ini.

              Untuk tahun ini, kata Al Ghamdi, kereta Mashair akan dioperasikan maksimal yakni mengangkut 500.000 jemaah haji dari Mekah ke Mina, Arafah, dan Musdalifah. Dalam satu jam, proyek yang menghabiskan biaya 6,7 miliar riyal itu mampu memberangkatkan jemaah sebanyak 72.000 jemaah.

              Deputi Menteri Urusan Hubungan Desa dan Kotapraja, Habib Zaine Al-Abidine, setiap jemaah yang naik Mashair ini akan dikenakan biaya 250 riyal selama musim haji. Harga itu untuk menutup perjalanan dari Mina ke Arafah dan dari Arafah ke Muzdalifah dan kembali lagi ke Mina.

              Sebanyak 4.000 pemuda Arab Saudi yang bekerja untuk kereta Mashair ini telah dilatih bagaimana mengeoperasikan kereta tersebut. Mereka pun dilatih pengelompokan dan manajemen jemaah yang berjubelan.Bentuk monorel Mashair memanjang seperti kereta api listrik di Jakarta. Sekilas angkutan ini memang tampak sangat bagus. Apalagi bila tengah melaju di antara deretan-deretan tenda di Mina yang berwarna putih. Hilir mudik monorel nantinya di kawasan Arafah dan Mina akan menjadi pemandangan baru yang menarik.

              Jemaah haji Indonesia tetap belum bisa menggunakan moda angkutan moderen tersebut. Nantinya, para jamaah haji Indonesia ketika akan melakukan ibadah di area Armina (Arafah dan Mina) tetap menggunakan angkutan biasa, yakni bus.

              “Tak hanya Indonesia, jemaah haji dari Asia Tenggara pun tak ada yang naik monorel. Memang sempat ada penawaran dari pihak Saudi Arabia akan penggunaan fasilitas itu. Tapi kami berpikir lebih baik naik angkutan biasa. Jadi kecenderungannya sekarang fasilitas monorel itu hanya digunakan untuk mengangkut jamaah haji dari kawasan Arab saja,” kata Kepala Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Daerah Kerja Mekah, Arsyad Hidayat, beberapa waktu lalu. (suhirlan)

              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              Kereta Mashair, Solusi Transportasi di Armina
              KA Mashair Beroperasi Penuh Musim Haji Tahun Ini
              Kereta Mashair, Alternatif Transportasi Haji
              Jamaah Haji Indonesia Belum Bisa Pakai Monorel
              Tiket KA Mashair Mulai Tersedia 25 Oktober
              Jemaah Haji Keluarkan Rp 2 Triluin Perhari
              Tabung Haji Batasi Penarikan Dana Maksimal 500 Riyal
              Belum Sempat Tukar Riyal? Tenang…Di Jeddah Beli Riyal Pakai Rupiah Lebih Murah
              Umrah dari Tan`im, Naik SAPTCO 2 Riyal, Bus Mini 4 Riyal
              KA Armina Dioperasikan Hari Ini

              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (17)

              Posted: 19 Oct 2011 11:02 AM PDT

              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (17)

              Mekkah (MCH)–Menghabiskan waktu di Masjidil Haram memang tidak membosankan. Banyak hal bisa dilakukan untuk menambah pundi-pundi pahala di masjid yang saat ini masih melakukan pelebaran dan pembangunan di beberapa titik.

              Senin sore saya dan beberapa kawan ke Masjidil Haram. Selain tujuan utama melaksanakan salat Magrib dan Isya berjamaah di masjid yang pahalanya dilipatgandakan 100 ribu itu, siapa tahu ada “sesuatu” yang baru. Ketika itu, alhamdulillah saya puasa sunat.

              Tak ada persiapan perbekalan. Hanya gelas tanggung, yang saya masukkan ke tas. Pikir saya, nanti bisa mengambil air zamzam untuk bekal buka puasa. Saya teringat saat di Masjid Nabawi saat ke sana beberapa pekan lalu. Kamis, jelang Magrib, di halaman masjid, banyak orang duduk yang di depannya ada aneka hidangan. Roti bulat besar dan kurma serta gelas-gelas ukuran kecil yang berisi zamzam. Ada pula yang membawa termos. Biasanya mereka membawa dari rumah. Isinya air hangat. Mereka ada yang duduk melingkar ada yang memanjang berhadap-hadapan. Usianya juga variatif.

              Ketika itu, Magrib memang menjelang. Sebenarnya saya ingin bergabung. Apalagi ada beberapa tempat yang masih kosong. Namun, saya sudah bawa bekal untuk buka. Makanya saya hanya melihat dan segera berlalu. Padahal di situ sudah ada roti, kurma, dan minuman. Tapi belum ada yang duduk. Mereka duduk lesehan tanpa alas. Yang diberi alas, hidangan dan minuman. Alasnya plastik.

              Saat saya mau masuk ke Masjidil Nabawi, petugas menegur saya. Saya pura-pura cuek dan berlalu sembari mempercepat langkah menuju tempat sandal yang letaknya setelah pintu masuk. Petugas yang berpakaian gamis itu mengampiri saya dan menanyakan bungkusan plastik yang saya bawa. Di dalamnya ada minuman jus, snack, dan buah-buahan. Sebelum ke masjid, saya mampir ke Bin Dawood, super market, lebih dahulu yang letaknya tak jauh dari Masjidi Nabawi. Akhirnya bungkusan plastik itu saya taruh di pojok luar pintu masuk.

              Setelah salat Magrib berjamaah di Masjid Nabawi, saya dan kawan-kawan, makan dan minum di emperan dekat pintu keluar. Petugas yang tadi memeriksa menghampiri. Tapi mimiknya beda dengan sebelumnya. Kalau saat menegur sebelumnya, tanpa dibalut senyuman. Kali ini, dia menghampiri dengan senyuman manisnya sembari bertanya, “Indonesia? Saya langsung mengeluarkan jurus sedikit bahasa Arab yang saya punya,”Na`am (ya).”. Setelah itu dia masih dengan senyuman yang mengembang, berlalu.

              Kembali ke Masjidil Haram. Karena Magrib masih 1 jaman lebih, saya masuk ke dalam melalui Bab Malik Abdul Aziz nomor 1.Pintu ini persis arah bangunan tinggi yang di atasnya ada jam besar di dekat Masjidil Haram. Sambil menunggu Magrib, saya melaksanakan berbagai aktivitas ibadah. Baru saja duduk, ada yang menawarkan minuman. Seorang menawarkan minuman hangat itu ke sejumlah jamaah yang ada di dalam masjid itu. Dia menenteng gelas-gelas kecil yang terbuat dari semacam plastik di tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang teko (tempat minuman).

              Setelah sampai di depan saya, sama dengan kepada yang lainnya, pria itu menawarkan. Saya bilang, “ana shaim.” Hanya saya menyodorkan gelas plastik yang saya bawa dari penginapan yang belum saya isi dengan zamzam. Beberapa saat kemudian, sekitar setengah jam sebelum azan Magrib ada pria tinggi, berpakaian gamis, berkulit gelap menenteng bungkusan dan teko melintas. Barang-barangnya kemudian dia taruh di bawah tiang masjid, yang terletak 1 shaff depan saya. Petang itu, jamaah sudah padat. Hampir tidak ada barisan (shaff) dalam masjid yang kosong.

              Sejurus kemudian, dia menggelar plastik yang sudah disiapkan di depan 1 shaff depan saya. Panjangnya sekitar 5 meteran. Dia menuangkan kurma ke pelastik tersebut. Dia juga membagi-bagikan kurma itu. Juga minuman. Alhamdulillah saya dapat kurma. Tapi, karena belum Magrib, saya belum memakan dan minumnya. Pria yang duduk di samping kanan saya bertanya dan saya jawab puasa. Saya lalu diberi tisu untuk alas kurma sambil berujar, “Khidmah.” Dia juga bertanya,” min aina anta?.” Saya jawab Indonesia. Lalu pria itu mengakat jempol tangan kanannya sembari tersenyum. Dia juga memintakan saya minuman ke pria yang tadi membagi-bagikan kurma dan minuman sambil berkata lumayan kencang,” Shaim-shaim.” Tak berapa lama pria yang membagi-bagikan minuman dan kurma tadi menuangkan saya minuman yang terlihat berawarna hitam, seperti kopi. Dituangkan ke gelas plastik.

              Setelah Magrib, saya mamakan 3 kurma. Sisanya saya bungkus tisu, lalu saya bagikan ke kakek yang duduk di sebalah kiri saya. Kemudia saya minum. Pertama yang saya minum adalah isi gelas yang saya bawa yang warnanya seperti jahe. Rasanya memang seperti jahe. Masih lumayan hangat. Tapi tidak manis. Berikutnya saya mencicipi minuman di gelas plastik kecil. Seperti kopi. Tapi, bukan kopi yang biasa saya minum di Indonesia. Rasanya pahit. Karena belum terbiasa rasanya, saya tidak habis.

              Setelah selesai salat Isya, di halaman masjid, sebagian orang terlihat beristirahat. Mereka duduk sambil mengobrol bersama keluarganya atau teman-temannya. Ada juga yang menyantap makanan. Sungguh nikmat. Tabarakallah.

              Banyak pelajaran yang saya lihat. Mereka berlomba-lomba bersedekah. Membagi makanan dan minuman dan memuliakan orang puasa. Mereka tak kenal satu sama lain. Tapi, itu bukan soal. Kata orang-orang Arab dengan bahasa keseharian,”ma fi musykilah (no problem).” Mereka mengejar pahala yang berlipat. Kata seorang teman, jika beramal baik pahala berlipat, maka jangan berbuat maksiat di Tanah Suci, karena dosanya juga berlipat… (m izzul mutho/bersambung)

              Sumber

              Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:

              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (2)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (3)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (7)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (8)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (12)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (4)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (11)
              Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah (13)
              Beragam Perjalanan Spiritual Wanita Muallaf Menuju Islam

              0 komentar:

              Posting Komentar

              Next Prev
              ▲Top▲