Mekkah (MCH)–Jemaah haji (calhaj) Indonesia memang sebagian memilih haji tamattu`, yakni melakukan umrah lebih dahulu kemudian mengerjakan haji. Cara ini dikenakan dam. Para calhaj Indonesia sebagian memilih haji tamattu`. Namun ada sejumlah calhaj yang memilih haji ifrad atau qiran. “Saya ifrad,” ujar seorang calhaj kepada MCH di depan Sektor Khusus Masjidil Haram. Haji ifrad adalah melakukan haji saja. Bagi yang akan umrah, setelah menyelesaikan hajinya dapat melaksanakan umrah.
Pagi itu sekitar pukul 06.00, pria yang bernama Muhammad Sais itu diantar ke Sektor Khusus Masjidil Haram, karena tidak tahu jalan pulang ke pemondokan setelah melaksanakan salat Subuh dan ibadah lainnya di Masjidil Haram. Pria yang usianya di di kisaran kepala enam itu, masih mengenakan pakaian ihram. Padahal sudah beberapa hari sampai di Makkah dan telah melaksanakan umrah.
“Saya datang Rabu dan sudah melakukan umrah,” ujar pria yang berasal dari Maluku Utara yang tergabung di kloter 10 embarkasi Ujung Pandang itu. Dia tahu, kalau harus memakai pakaian ihram hingga setelah puncak haji atau setelah rangkaian hajinya selesai dikerjakan.”Sampai selesai wukuf di Arafah nanti,” imbuhnya. Dia memilih ifrad, karena panggilan hati. Di rombongannya yang memilih ifrad ada 10 orang.
Menurut Kepala Seksi Bimbingan Ibadah Daerah Kerja Makkah Syahlan Arief, pihak Kementerian Agama memang tidak mengarahkan kepada para calhaj memilih salah satu di antara tiga tersebut. "Kalau jamaah mau memilih tamattu’ atau ifrad atau qiran, silakan saja. Yang memilih ifrad ada juga. Ada satu rombongan yang memilih ifrad. Biasanya yang datang ke Makkah mendekati wukuf, memilih ifrad. Ada juga yang qiran. Kalau petugas, karena dia punya tugas memang disarankan tamattu`," jelasnya kepada INDOPOS.
Yang memilih ifrad bukan tidak mampu membayar dam, karena mereka yang memilihnya tak jarang orangnya kaya atau mampu. Naib Amirul Haj KH Hasyim Muzadi mengatakan, memilih ifrad, qiran atau tamattu’ merupakan pilihan masing-masing. "Silakan pilih sendiri. Islam tidak memilihkan. Ifrad tidak bayar dam," tegasnya.
Sementara itu, suasana di pasar Kaqiyah yang menjual hewan seperti kambing dan unta serta menyediakan tempat penyembelihannya, kemarin (29/10) tampak ramai. Sejumlah calhaj Indonesia dan negara lain tampak datang.”Saya mau melihat-lihat dulu,” ujar Muhammad Ibrahim, calhaj dari kloter 13 embarkasi Aceh ditemui di depan pasar Kaqiyah.
Dia tidak sendiri. Bersama sekitar 7 rekan-rekannya, dia didampingi oleh guide, seorang mahasiswa Al Azhar, Kairo, Munawir. “Bisa lewat bank. Tapi, saya mau lihat dulu di sini. Sebab, rombongan 1 dan 3 mengeluarkan SR 350 (riyal) untuk membayar dam tamattu`. Itu katanya sudah termasuk paket ziarah ke gua tsur dan hira, serta melihat-lihat Arafah, Mina, dan Muzdalifah. Cukup umurnya untuk disembelih. Yang penting sah,” ujar Ibrahim yang tergabung di rombongan 9 itu.
Dari beberapa pedagang yang ditemui di pasar tersebut, harga hewan variatif. Tentu harus pandai menawar. “Alfain wa tsamania miat riyal (2.800 riyal, Red),” ujar seorang pria ketika MCH bertanya berapa harga 1 ekor unta yang ketika itu masih berada di atas truk besar di depan pasar. Truk itu mengangkut beberapa unta. Ukuran unta itu tidak besar. “Alef wa itsna miatain (1.200 riyal, Red),” ujar pria yang terus menawarkan ketika ditanya harga domba yang cukup besar. Sedangkan untuk domba barbar kisarannya sekitar 300 riyal.
Di pasar ini, bisa cari hewan seperti kambing atau domba dan unta sesuai yang diinginkan. Jumlah hewan di di sini bisa ribuan. Di dalam pasar juga ada bangunan khusus yang cukup luas. Di tempat ini, hewan tersebut disembelih dan dipotong dagingnya.
Sementara itu, calhaj yang telah tiba di Arab Saudi hingga pukul 13.49 waktu setempat kemarin (29/10), sebanyak 190.742 orang. 182.879 di antaranya telah masuk ke Makkah. Adapun yang dirawat di Balai Pengobatan Haji Indonesia di Makkah sebanyak 100 orang dan 18 di rumah sakit Arab Saudi. Sedangkan calhaj yang meninggal 77 orang. Sebelumnya 74 orang. Jamaan bin Marah dari kloter 16 embarkasi Padang, Wartiyem binti Wongso dari kloter 45 embarkasi Solo, dan Masri bin Ahmad dari kloter 41 Jakarta (JKG). (zul)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Mekkah(MCH)–Nasib apes menimpa seorang petugas kesehatan rombongan jamaah haji khusus. Dia menjadi korban aksi perampasan yang banyak menimpa calon jamaah haji Indonesia.
“Seorang dokter haji khusus bernama Iwan menjadi korban aksi kriminal,” ujar Kepala Bidang Keamanan PPIH Kolonel CAJ Bambang Siswoyo, kemarin.
Dia menjelaskan dari informasi yang dikumpulkan oleh pihak keamanan, korban menjadi korban perampasan di daerah Bahutma. Saat itu korban sedang berjalan kaki sendirian. Tiba-tiba korban didatanggi oleh seorang laki-laki yang tak dikenal. Tanpa ba-bi-bu, pelaku kemudian meminta harta berharga korban. “Pelaku berhasil merampas dompet korban yang berisi uang dalam bentuk rupiah dan riyal, kemudian beberapa kartu kredit, serta beberapa surat berharga,” jelasnya.
Dia mengungkapkan Bahutma merupakan wilayah di Makkah yang tergolong rawan. Di daerah itu biasanya dipadati oleh kaum pendatang dari berbagai negara. “Korban mengaku kalau pelaku bisa berbahasa Indonesia, tapi dia tidak bisa memastikan apa pelaku memang warga kita, karena suasana TKP memang gelap,” katanya.
Bambang mengingatkan agar seluruh anggota rombongan haji agar selalu berhati-hati selama di tanah suci. Ancaman kejahatan bisa menimpa siapa saja yang lengah. “Di sini tanahnya saja yang suci, tapi orang-orangnya belum tentu suci,” ujarnya.
Sementara itu Menteri Agama (Menag) Suryadarma Ali mengatakan akan terus berusaha meningkatkan keamanan dari jamaah. Selain berusaha menambah jumlah personel, juga akan diusahakan adanya petugas keamanan perempuan.
“Tahun depan akan kita adakan,” kata Menteri Agama Suryadharma Ali saat berkunjung ke kantor Daker Madinah, Sabtu (29/10/2011) dinihari WIB.
Tahun ini jumlah petugas keamanan sebanyak 53 orang yang semuanya lelaki, 21 di antaranya berada di Madinah. Karena semua lelaki, mereka tidak bisa menembus barisan jamaah perempuan di Masjid Nabawi.
Petugas keamanan wanita juga menjadi concern anggota DPR saat berkunjung ke Madinah pekan lalu. Mereka bahkan mengusulkan jumlah petugas lelaki dan perempuan yang seimbang. Langkah Daker Madinah menempatkan 3 petugas wanita di Raudlah- Masjid Nabawi untuk mengatur jamaah wanita, mendapat apresiasi.
Untuk program tahun depan juga, Suryadharma akan mengintensifkan bimbingan manasik haji lewat televisi.
“Isinya tidak tentang ibadahnya saja, tapi juga soal pola hidup selama di Arab Saudi, kesehatan, tips-tips, termasuk barang apa saja yang dipakai,” jelasnya, meski dia mengakui bahwa bimbingan paling efektif dilakukan oleh kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) dan pimpinan kloter.
Kebijakan pemerintah tentang haji bahkan tentang haji nonkuota akan masuk di dalamnya.
Sedangkan terkait banyaknya jamaah tersesat jalan, Suryadharma menuturkan, hal itu tak bisa dihindari.
“Orang baru datang, tempat asing…yang penting kita berusaha tempatkan petugas di titik-titik tertentu,” kata Suryadharma.
Untuk menambah jumlah petugas juga bukan perkara mudah. “Penambahan petugas akan mengurangi kuota dan membuat anggaran membengkak,” ungkapnya. (Suwarno)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Mekkah(MCH)—Pemerintah Kerajaan Arab Saudi sangat terbuka terkait ibadah haji. Di beberapa titik, mereka menyosialisasikan kepada siapa pun, terutama kepada calon haji (calhaj) untuk tidak segan-segan bertanya. Seperti tulisan elektronik yang bisa dilihat oleh para calhaj jika melalui terminal Gaza. Tepatnya di ujung terminal, dekat dengan centra kios siwak. Tulisan elektronik yang berjalan secara otomatis di atas bangunan ukuran sekitar 2 × 2 meter itu menyajikan beberapa bahasa. Seperti bahasa Arab, Inggris, dan Indonesia. Kalau malam hari, tulisan berwarna merah itu tampak lebih jelas.
Bunyi tulisan itu kurang lebih sebagai berikut adalah Firman Allah “Bertanyalah kepada ahli agama, jika kamu tidak tahu”…Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Penyuluhan. Sekretariat Jenderal Penyuluhan Haji, Umrah, dan Ziarah Mengucapkan Selamat Datang Kepada Para Jemaah Haji dan Umrah. Kami Sangat Gembira Menampung Segala Pertanyaan Anda Melalui Kantor Kami Atau Melalui Telepon Gratis Sebagai Berikut 8002451000.(zul)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Jeddah(MCH)-KEMABRURAN itu hak Allah. Manusia hanya berupaya memenuhi syarat-syarat haji agar hajinya diterima Allah dan menjadi mabrur. Itu hak Allah, bukan hak manusia,” kata KH Hasyim Muzadi. Menyimak apa yang dikatakan mantan Ketua Umum PBNU itu, semakin memantapkan hati di tengah jutaan orang yang datang ke Tanah Suci untuk meraih kemabruran. Hal ini setelah sempat mengalami kegamangan karena kemabruran dipersolkan.
Selama ini, hal itu tidak diusik oleh siapa pun. Namun, tak ada angin dan tak ada badai kemabruran itu tiba-tiba menjadi sorotan Komisi VIII DPR dan berencana membuat standar kemabruran itu dimasukkan dalam reviusi UU 13 tahun 2008.
Rencana itu mengingatkan perlunya standarisasi uji kelaikan kendaraan melalui uji emisi. Jika saja ada kendaraan yang knalpotnya tak berasap, maka layak jalan dan boleh menyeruak padatnya kemacetan kota Jakarta. Sebaliknya, yang berasap tebal karena mengotori udara tak layak uji sehingga tak laik jalan.
Bagi kendaraan memang tepat diperlakukan demikian karena menyangkut kebersihan lingkungan. Hal itu juga tidak terlalu sulit diukurnya, karena terlihat dengan mata telanjang bahwa kendaraan yang meraung-raung dan knalpotnya boros asap memang menggangu pernapasan orang banyak.
Sementara kemabruran itu hak Allah yang menentukan. Kalau toh ada yang menjadi pegangan, seperti adanya perubahan dalam sikap kehidupan yang tercermin pada kekhusyukan pada orang yang pulang haji, tetap saja kita tak mampu mengukur sepenenuhnya. Itu hak individu karena sejauh mana kepasrahan yang ada, hanya yang bersangkutan yang mempu mengukur dan merasakannya.
Jadi, apa yang disampaikan Kiai Hasyim itu sangat tepat. Bagai tetes air yang menyejukkan ruang hati dan pikiran setiap orang. Harapannya, mampu juga menyejukkan pihak lain yang melontarkan perlunya standarisasi kemabruran tersebut.
Saat ini, saudara kita telah selesai melakukan pendakian yang tajam karena berhasil menahan kesabaran berupa menunggu waktu yang panjang untuk datang ke Tanah Suci. Mereka kini tinggal di pondokan-pondokan yang ada di sekitar kota Makkah al Mukarromah.
Totalitas beribadahnya pun dilakukan. Bangun sebelum subuh, terus bergegas ke Masjidil Haram. Mereka berdesak-desakan untk menempatkan diri yang pas sehingga dapat berkomunikasi langsung di hadapan Baitullah.
Upaya untuk lebih intens dalam melakukan komunikasi dengan Sang Khalik, bila tak berangkat ke Masjidil Haram, jemaah menggelar karpet di sepanjang trotoar yang berada di depan pondokannya. Pendeknya, mereka tak mau membuang sia-sia waktunya selama berada di Tanah Suci. Sedang bagi jemaah yang kebetulan pondokannya dekat dengan mesjid, mereka mendatanginya setiap waktu.
Jemaah juga mampu mengatur jadwalnya bila hendak ke Masjidil Haram. Ada yang berangkat untuk salat dhuhur sampai ashar, ada yang magrib sampai isya dan hampir semuanya mau datang bila subuhan. Mereka rela berjalan kaki, naik kendaraan bak tebuka dan bus yang telah disediakan.
Realitas itu adalah bertujuan untuk menumbuhkan kembali kesadaran dalam meningkatkan ibadahnya yang selama ini mengalami penurunan. Karena itu, haji yang dilakoninya merupakan kesempatan untuk kembali meraih kefitrahan sebagai kemabruran haji.
Menyadari dirinya telah kembali ke-fitrahnya ini, maka jemaah haji yang pulang akan menunjukkan sifat-sifat yang lebih terpuji. Sebagai awam menangkap sikap terpuji itu adalah mereka terlihat semakin khusyu, sabar, ikhlas, tidak serakah, saling membantu terhadap sesama, jujur dan tidak mau menang sendiri.
Perubahan itu terjadi bukan karena orang lain, tetapi karena dirinya sendiri yang telah berhasil meningkatkan ibadahnya sesuai syarat dan rukun yang telah ditentukan. Untuk itu, Kiai Hasyim Muzadi menginagtkan, kalau DPR ingin membantu kemabruran haji seseorang, lebih baik menekankan pada syarat-syarat haji saja.
“Jangan yang menyangkut urusan transendental. DPR itu mau nyaingi Tuhan apa gimana?,” katanya seraya menandaskan, yang menentukan kemabruran haji adalah Allah. Sedang, manusia hanya berkewajiban memenuhi syarat, rukun dan wajibnya haji, serta menghindari larangannya.
Sekarang ini ada dua ratus ribu lebih calon haji berkumpul di Tanah Suci. Mereka dari latar belakang yang berbeda yakni petani, pedagang, guru, kiai, anggota DPR dan wartawan yang sama-sama menunaiakan ibadah haji. Mari kita doakan semoga Allah menjadikannya haji yang mabrur, Amin. (Syaifullah Hadmar)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Menag Berjumpa Calhaj Nonkuota Bertarif Rp 65 Juta di Madinah
Madinah (MCH)-Menteri Agama Suryadharma Ali mampir ke kantor Daker Madinah, Sabtu (29/10/2011) siang. Tak dinyana, di situ dia berjumpa seorang calon jamaah haji nonkuota yang kesasar.
Jamaah nonkuota itu adalah M Yusuf Dugan. Buruh sadap karet itu telah sejam berada di Daker, menunggu dijemput oleh pengurus biro haji yang memberangkatkannya, Cahaya MM. Saat Yusuf yang berbaju serba putih itu menunggu di sofa lobi, datanglah rombongan menteri.
Menteri bertanya siapa namanya, di mana hotelnya, asalnya, pekerjaaannya, kapan berangkat, dsb. Tapi tak semua pertanyaan bisa dijawab Yusuf karena kurang cakap berbahasa Indonesia. Namun dia mampu menjawab saat ditanya berapa ongkos haji yang dibayarnya. “65 juta rupiah,” jawabnya jelas.
“Luar biasa ya,” komentar Menag mendengar jawaban itu.
Menteri sempat melihat gelang identitas Yusuf. Menteri lalu memperlihatkan gelang besinya yang tak dipunyai Yusuf. Yusuf hanya memiliki gelang karet bertuliskan biro perjalanannya.
“Harap dibantu ini,” pinta Menag kepada jajaran Daker Madinah.
“Ya Pak, ini penjemputnya sedang ke sini, sudah ditelepon tadi,” jawab Kadaker Akhmad Jauhari.
Percakapan dengan Yusuf berlanjut penuh canda di antara rombongan, yang terdapat juga KH Hasyim Muzadi. Tawa pecah saat Yusuf mengaku mencontreng PPP pada Pemilu lalu. Menag yang Ketum PPP pun menyalami Yusuf.
“Jadi ini tersesat yang membawa berkah. Kalau Bapak tidak tersesat, tidak ketemu sama Pak Menteri dan Pak Kiai,” canda anggota rombongan.
Menurut seorang petugas Daker Madinah, Oman, Yusuf telah dua kali kesasar ke Daker.
Setelah itu, Menag meninjau Balai Pengobatan Haji Indonesia. Saat Menag berangkat, 3 orang penjemput Yusuf tiba.
Jamaah haji nonkuota adalah isu yang muncul saban tahun. Menag berjanji akan bertindak tegas tahun depan dengan melibatkan Kemenkum HAM dan Polri.(Nurul)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
MADINAH (MCH): Pemerintah tak bisa terus membiarkan praktik penyelenggaraan ibadah haji nonkuota. Menteri Agama Suryadharma Ali menyatakan, masalah tersebut akan dibawa ke forum lintas sektoral. Dengan itu, penegakan hukum terhadap kegiatan penyelenggaraan ibadah haji nonkuota ini diharapkan bisa dilakukan.
Dalam percakapan dengan wartawan di kantor Misi Haji Indonesia di Madinah, Jumat malam waktu Arab Saudi, Suryadharma mengakui bahwa Kemenag selama ini tak bisa berbuat banyak terhadap penyelenggara ibadah haji nonkuota ini. Padahal undang-undang menyatakan bahwa penyelenggara haji adalah pemerintah (Kemenag). Di luar itu, mereka yang menyelenggarakan layanan ibadah haji jelas ilegal dan melanggar undang-undang sehingga beralasan ditindak.
Namun Kemenag tidak bisa berbuat banyak terhadap penyelenggara ibadah haji nonkuota ini karena tidak memiliki kewenangan untuk melakukan penindakan. Itu pula yang seolah memberi angin terhadap pihak-pihak tertentu terus menyelenggarakan layanan haji nonkuota. Terlebih lagi mereka terkesan tak kesulitan mengusahakan visa haji bagi jemaah nonkuota ini.
Karena itu, kata Suryadharma, pihaknya tergerak untuk membawa persoalan haji nonkuota ke forum lintas sektoral. “Tahun depan, masalah ini kita koordinasikan dengan instansi-instansi lain, sehingga law enforcement bisa ditegakkan,” tuturnya.
Bagi pemerintah, haji nonkuota ini ibarat duri dalam daging. Terutama kalau jemaah nonkuota bermasalah ketika berada di Arab Saudi, entah tersesat, sakit, atau bahkan meninggal, pemerintah selaku penyelenggara resmi acapkali direpotkan. Itu karena pihak penyelenggara haji nonkuota lepas tangan atau seperti tidak mengerti harus berbuat apa untuk menyelesaikan masalah.
Di sisi lain, jemaah nonkuota ini juga merecoki kenyamanan jemaah reguler. Terutama saat di Arimina, mereka menyelusup dan merecoki tenda-tenda jemaah reguler, termasuk ikut menikmati sajian katering. Padahal akomodasi jemaah reguler sendiri selama di Armina sangat terbatas karena banyaknya jemaah.
Sementara itu, kalangan jemaah haji khusus (ONH Plus) meminta pemerintah agar memiliki keinginan kuat untuk lebih meningkatkan mutu layanan bagi jemaah haji reguler agar tidak lagi senjang dibanding layanan yang lazim dinikmati jemaah khusus. Memang, mutu layanan bagi jemaah haji reguler ini sekarang sudah relatif baik. Tapi dibanding jemaah haji khusus, jemaah haji reguler tertinggal jauh dalam soal mutu layanan ini.
“Dalam soal pemondokan, misalnya, layanan yang dinikmati jemaah haji reguler ini sungguh kontras. Satu kamar diisi tujuh sampai delapan jemaah. Bahkan ada kamar yang diisi sembilan orang. Sampai-sampai kopor mereka tak bisa ditaruh di dalam kemar,” kata seorang jemaah khusus Michelin Hidayat.
Penilaian senada juga diutarakan beberapa jemaah khusus lain. Bagi mereka, kenyataan itu juga menyentuh citra jemaah haji Indonesia secara keseluruhan di mata bangsa-bangsa lain. Padahal di beberapa aspek, citra jemaah haji Indonesia sudah positif. Selain merupakan rombongan terbesar, jemaah Indonesia juga diakui paling tertib. “Dibanding jemaah dari negara mana pun, jemaah haji kita paling bagus dalam tertib beribadah. Ini kan sayang kalau aspek lain, seperti masalah layanan pemondokan, malah tidak mendukung,” ujar Hidayat.
Dia sangat berharap mutu layanan bagi jemaah haji reguler bisa mendekati apa yang bisa dinikmati jemaah khusus. Memang itu berimplikasi terhadap biaya penyelenggaraan haji. Tapi, kata Hidayat, implikasi biaya itu tak mesti serta-merta dibebankan kepada jemaah. “Impikasi biaya ini bisa diatasi dengan pemberian subsidi. Saya yakin, pemerintah mampu meng-cover itu,” tutur Hidayat.
Suryadharma sendiri menyatakan setuju bahwa mutu layanan bagi jemaah reguler, khususnya menyangkut kamar pondokan, masih perlu ditingkatkan. Namun dia mengingatkan bahwa itu berimplikasi menambah ongkos, sementara pemerintah sulit bisa memberikan subsidi tambahan. “Kan sekarang ini haji reguler sudah menikmati subsidi. Misalnya untuk biaya pembuatan paspor dan banyak lagi,” katanya. (Asep Yayat)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Madinah (MCH)–Untuk lebih menjangkau jemaah haji ke seluruh nusantara, serta persiapan manasik jemaah lebih baik, Menteri Agama Suryadharma Ali akan mengintensifkan bimbingan manasik haji melalui televisi mulai tahun depan. Jangkauan media elektronik tersebut dinilai lebih efektif dalam memberikan informasi maupun pelayanan ibadah haji bagi jemaah di seluruh tanah air.
“Isinya tidak tentang ibadahnya saja, tapi juga soal pola hidup selama di Arab Saudi, kesehatan, tips-tips, termasuk barang apa saja yang dipakai,” kata Menteri Agama Suryadharma Ali selaku Amirul Haj 1432H/2011 kepada wartawan MCH di Kantor Misi Haji Indonesia, Madinah, Arab Saudi, Sabtu (29/10) dini hari WIB.
Hal senada diungkapkan Naib Amirul Haj KH Hasyim Muzadi bahwa pemerintah pun harus meningkatkan pelayanan ibadahnya kepada para jemaah. Salah satunya yakni dengan lebih banyak memberikan informasi ibdah haji mulai dari dia berangkat dari tanah air hingga filsafat yang terkandung dari makna haji tersebut.
“Peningkatan sarana dan prasarana sudah semakin baik. Tapi yang lebih penting adalah peningkatan ibadah mereka. Karena saat ini keinginan orang untuk cari status haji lebih tinggi dari pada kemauan orang untuk memperbaiki dirinya sendiri setelah proses haji ini,” kata Hasyim.(suhirlan)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
M(MCH)–Menjelang puncak haji di Arafah, Sabtu (5/11) mendatang, Kota Mekkah kian dipadati calon jamaah haji (Calhaj) dari berbagai negara. Calhaj Indonesia diminta mewaspadai potensi terjadinya infeksi saluran pernafasan (ISPA).
Kepadatan Mekkah akan jelas terlihat menjelang dan sesudah salat-salat fardhu. Saat itu jutaan calhaj dari berbagai negara secara bergelombang menuju masjidil haram. Baik dengan berjalan kaki, menggunakan shuttle bus, maupun menyewa angkutan umum. “Kondisi ini perlu diwaspadai oleh para calhaj Indonesia, karena rawan penyakit,” ujar Kepala Bidang (Kabid) Kesehatan PPIH Mawari Edy, kemarin.
Mawari menjelaskan salah satu penyakit yang rentan terjadi dalam kondisi itu adalah infeksi saluran pernapasan atau ISPA. Selain cuaca panas berdebu, kepadatan jamaah terutama saat berdesak-desakan di masjidil haram membuat pasokan oksigen menipis. “Keadaan ini membuat penularan penyakit melalui udara bisa dengan cepat terjadi,” jelasnya.
Dari pantauan MCH, kondisi masjidil haram sangat sesak menjelang dan sesudah salat fardhu. Di setiap waktu salat, jamaah sudah tidak bisa tertampung di dalam masjid. Ratusan ribu jamaah meluber di pelataran masjid. Bahkan sejumlah pelataran hotel dan tempat belanja yang berjarak kurang lebih 500-1000 meter dari pintu-pintu masjidil haram juga telah dipakai sebagai tempat salat.
Kendati terkesan ringan, Mawari meminta agar calhaj Indonesia tak memandan sepele terjadinya ISPA. Utamanya bagi jamaah lanjut usia atau mempunyai penyakit bawaan. Sebab ISPA yang tak tertangani dengan baik, akan memicu kondisi kegawatan yang mengarah pada kematian. “Jadi akan lebih baik bila calhaj melakukan tindakan pencegahan agar tidak sampai terkena ISPA,” katanya.
Mawari menyarankan agar calhaj Indonesia menggunakan masker setiap keluar dari pemondokan maupun saat berada di masjidil haram. Langkah ini setidaknya akan mencegah jamaah dari ancaman penularan penyakit yang ditularkan melalui udara. “Selain itu jika calhaj sakit, masker akan mencegah agar penyakitnya tak menular ke jamaah lain,” ujarnya.
Sementara itu dua hari menjelang batas akhir kedatangan tanggal 31 oktober pukul 24.00 waktu Arab Saudi atau 1 November pukul 04.00 WIB, 82,71% calhaj Indonesia telah tiba di Arab Saudi. Sedangkan 31.814 orang jamaah atau 17,29% masih menunggu pemberangkatan dari tanah air.
Pada hari ini dijadwalkan 16 kloter jamaah tiba, dan hingga pukul 10.05 WAS, sudah 8 kloter yang tiba di Bandara King Abdul Azis, Jeddah. Yaitu SOC 84 dan 85, JKS 74,75, 76, dan 77, kemudian UPG 37 dan 38
Sedangkan 8 kloter sisanya akan berdatangan hingga pukul 24.00 malam nanti, yaitu UPG 39, JKG 46 dan 47, SUB 79, 80, 81, dan 82, dan BPN 17. Pada dua hari yang tersisa yaitu 30 dan 31 Oktober akan datang lagi 35 kloter. Kloter yang akan datang paling terakhir adalah kloter 17 BDJ pada pukul 21.40 WAS, diperkirakan akan keluar bandara pukul 23.40 dan kloter 87 SUB akan tiba di bandara pukul 22.25 WAS dan diperkirakan keluar bandara pukul 00.25 WAS.
Kepala Daker Makkah, Arsyad Hidayat, mengatakan ketentuan closing date kedatangan jamaah haji dari seluruh dunia ditentukan Kerajaan Arab Saudi. Katanya, semua penerbangan yang membawa jamaah calon haji dari Indonesia dan dunia sudah harus berada di Arab Saudi pada akhir 31 Oktober, sehingga dipastikan Mekah akan makin padat oleh jamaah.
Setelah tanggal itu, katanya, semua penerbangan dan jamaah sudah tidak diizinkan lagi mendarat dan tiba di Arab Saudi. “Situasi itu tentunya sudah bisa dipahami oleh masing-masing negara dan penerbangan yang mengirimkan jamaahnya ke Arab Saudi, baik yang mendarat di Jeddah maupun Madinah,” kata Arsyad.
Dia berharap agar semua jamaah calon haji Indonesia sudah berada di Arab Saudi sebelum akhir 31 Oktober pukul 24.00 WAS, sehingga tidak ada yang tertahan di bandara Jeddah.(suwarno)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
0 komentar:
Posting Komentar