Awal Dzulhijjah, merupakan hari-hari yang mulia yang sudah seharusnya setiap muslim memperbanyak amalan sholeh kala itu. Semoga artikel sederhana ini bermanfaat bagi remaja muslim sekalian.
Dari Ibnu Abbas, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
“Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah).” Para sahabat bertanya: “Tidak pula jihad di jalan Allah?” Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: “Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun.” (HR. Abu Daud no. 2438. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho'if Sunan Abi Daud mengatakan bahwa hadits ini shohih).
Hadits yang mulia ini menunjukkan keutamaan beramal di 10 hari pertama bulan Dzulhijah.
Ibnu Rojab dalam Latho'if Ma'arif mengatakan, "Amalan yang kurang afdhol jika dikerjakan di waktu yang utama (seperti bulan Dzulhijah, pen), lalu dibandingkan dengan amalan yang afdhol yang dikerjakan di bulan lainnya, maka amalan yang dikerjakan di waktu yang utama akan lebih unggul karena pahala dan ganjaran yang dilipatgandakan." Bahkan sebagian ulama mengatakan bahwa amalan pada setiap hari di awal Dzulhijah sama dengan amalan satu tahun, ada pula yang mengatakan sama dengan dua tahun, bahkan ada yang mengatakan sama dengan 1000 hari. Keutamaan ini semua berlandaskan pada hadits fadho'il yang lemah (dho'if), namun hal ini tetap menunjukkan keutamaan beramal pada awal Dzulhijah berdasarkan hadits shohih yang ada.
Lalu apa amalan yang dapat kita lakukan pada awal Dzulhijah?
Amalan yang dapat dilakukan adalah berpuasa. Berdasarkan perkataan Hafshoh, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah meninggalkan berpuasa pada sepuluh hari awal Dzulhijah. Namun 'Aisyah mengatakan bahwa beliau tidak pernah melihat Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengerjakan puasa di hari-hari tersebut sama sekali. Ibnu Rojab menukil perkataan Imam Ahmad dalam menggabungkan dua perkataan ini dengan mengatakan, "Yang dimaksudkan 'Aisyah adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak berpuasa secara sempurna pada awal Dzulhijah. Sedangkan yang dimaksudkan Hafshoh adalah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa berpuasa pada mayoritas hari-hari yang ada. Oleh karena itu, sebaiknya seseorang berpuasa pada sebagian hari dan berbuka pada sebagian lainnya. Inilah kompromi yang paling bagus."
Ada pula ulama yang mengatakan bahwa pada awal Dzulhijah tidak hanya dikhususkan untuk berpuasa, namun ini umum untuk amalan lainnya seperti qiyamul lail (shalat malam) dan memperbanyak dzikir yaitu bacaan tahlil, tahmid dan takbir. Ini menunjukkan keutamaan beramal pada awal bulan tersebut. (Inilah Faedah dari Latho'if Ma'arif, Ibnu Rojab)
Juga hendaklah kita yang gemar melakukan amalan sunnah (mustahab) dapat berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijah (puasa Arofah) karena keutamaan yang besar di dalamnya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya mengenai keutamaan puasa Arofah? Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab, "Puasa Arofah akan menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang." (HR. Muslim no. 2804).
Semoga dengan melakukan hal ini kita termasuk orang yang mendapat keutamaan yang disebutkan dalam hadits qudsi berikut.
"Dan senantiasa hamba-Ku mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya." (HR. Bukhari no. 2506). Orang yang senantiasa melakukan amalan sunnah (mustahab) akan mendapatkan kecintaan Allah, lalu Allah akan memberi petunjuk pada pendengaran, penglihatan, tangan dan kakinya. Allah juga akan memberikan orang seperti ini keutamaan dengan mustajabnya do'a. (Faedah dari Fathul Qowil Matin, Syaikh Abdul Muhsin bin Hamd Al Abad, www.islamspirit.com)
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapat taufik Allah untuk beramal pada hari yang utama ini dengan selalu mengharapkan wajah-Nya dan mengikuti tuntunan Rasul-Nya.
Diselesaikan di pagi hari yang penuh berkah, 27 Dzulqo'dah 1429 H di rumah tercinta Pangukan – Sleman
Yang senantiasa mengharapkan rahmat dan ampunan Rabbnya
Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Senin, Closing Date Calhaj, 479 Kloter Sudah Tiba di Arab Saudi
Mekkah (MCH)–Para calon haji (calhaj) Indonesia terus berdatangan ke Arab Saudi. Hingga Ahad (30/10) pukul 15.00 waktu setempat (19.00 WIB), calhaj yang tiba di Arab Saudi sebanyak 200.510 (479 kloter). Sebanyak 190.495 (471 kloter) di antaranya sudah masuk ke Makkah. Para calhaj reguler gelombang 1 yang sebelumnya ke Madinah terlebih dahulu, sudah bergerak ke Makkah. “Di Madinah sudah habis,” ujar Kepala Seksi Kedatangan dan Kepulangan Daerah Kerja Makkah Sahbuddin, Ahad (30/10), di Mekkah.
Data awal yang ada di Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu Kementerian Agama menyebutkan, jumlah kloter secara keseluruhan 500 kloter. Dengan demikian, saat ini tinggal 21 kloter yang belum tiba di Arab Saudi. Semua calhaj harus sudah masuk ke Makkah paling lambat 31 Oktober 2011 pukul 24.00 waktu setempat. “Closing date tanggal 31 Oktober,” ujar Kepala Daerah Kerja Makkah Arsyad Hidayat. Dari jadwal yang dirilis Kementerian Agama, 31 Oktober merupakan akhir pemberangkatan calhaj gelombang II dari tanah air ke Jeddah, Arab Saudi. Dari Jeddah, calhaj yang masuk gelombang II langsung ke Makkah.
Terpisah, Dirjen Penyelenggara Ibadah dan Umroh Slamet Riyanto mengatakan, persiapan haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina sudah cukup baik. “Informasi yang saya terima persiapannya sudah baik dan koordinasinya juga lancar,” kata Slamet, Ahad. Untuk katering sudah dipastikan dengan prasmanan karena dinilai lebih baik. Makanan yang disajikan dalam keadaan fresh, jika dibandingkan dengan nasi kotak.
Sedangkan Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi dr Mawari Edy mengatakan, persiapan puncak haji terus dilakukan. Salah satunya adalah pemeriksaan kondisi kesehatan calhaj sebelum berangkat wukuf di Arafah. “Untuk screening kami sudah mengedarkan surat kepada masing-masing dokter kloter agar mulai melakukan pemeriksaan kondisi akhir jamaah,” ujar Mawari. Hasil pemeriksaan menjadi dasar bagi petugas kesehatan dalam memperlakukan jamaah. Pihaknya akan memilah kondisi calhaj dalam tiga kelompok, mandiri, observasi, dan tunda.
Bagi calhaj yang mengalami gangguan kesehatan, namun mampu mengobati diri sendiri akan masuk kategori mandiri. Sedangkan calhaj sakit yang membutuhkan pendampingan masuk dalam kategori observasi. Sementara calhaj sakit yang membutuhkan perawatan intensif, masuk kategori tunda. Calhaj yang masuk kelompok observasi dan tunda kemungkinan besar akan disafariwukufkan.
Sementara itu, seorang calhaj Indonesia dari Nanggroe Aceh Darussalam pulang sebelum wukuf di Arafah karena akan mengikuti proses pemilihan kepala daerah (Pemilukada) di daerahnya. “Dia sudah pulang ke Tanah Air dengan pesawat reguler beberapa hari lalu setelah menjelaskan alasannya kepada saya,” kata Arsyad yang enggan menyebutkan nama orang tersebut.
Dia pulang karena akan mengikuti tes kesehatan sebagai salah satu syarat mengikuti Pemilukada. “Saya minta yang bersangkutan membuat surat pernyataan tertulis yang menyatakan dirinya mau pulang sesuai kehendaknya sendiri,” kata Arsyad. Setelah membuat pernyataan selanjutnya surat disampaikan kepada PPIH lalu ke Muassasah dan ditujukan ke Kementerian Haji Arab Saudi.”Jadi proses kepulangan sebelum puncak haji, panjang. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” katanya. Setelah mendapat surat persetujuan, dia boleh pulang ke Indonesia dengan menggunaklan pesawat reguler dan biaya sendiri.
Di bagian lain, calhaj yang dirawat inap di Balai Pengobatan Haji Indonesia sebanyak 97 orang dan 21 orang di rumah sakit Arab Saudi. Sedangkan yang meninggal 81 orang. Sebelumnya 77 orang. Amra bin Sambokkong dari kloter 35 embarkasi Ujung Pandang, Jumaidi bin Saimin kloter 12 embarkasi Medan, Abu Bakar bin Durahman kloter 10 Banjarmasin, dan Imansyah, SIP, MM bin Ahmad Kalen dari kloter 10 Balikpapan. (zul)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Honor Menggiurkan, Berebut Jadi Temus, Dites Pancasila.(Di Balik Perjalanan Menuju Baitullah-28)
Mekkah (MCH)–Musim haji seperti saat ini menjadi berkah tersendiri bagi para mahasiswa yang menimba ilmu di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, dan mukimin, warga Indonesia yang tinggal di Arab Saudi. Kenapa?
Jika Anda pergi umrah atau haji, insyaAllah banyak bertemu dengan warga Indonesia. Tentunya selain calon haji (calhaj) Indonesia yang juga berangkat dari tanah air. Selain yang berangkat dari Indonesia, sejumlah warga Indonesia yang bekerja di sejumlah negara, khususnya Timur Tengah juga ikut pergi haji. Beberapa hari lalu, saya bertemu beberapa orang Indonesia yang bekerja di Qatar. “Saya dari Indonesia, bekerja d Qatar. Dari Qatar sekitar 300 orang,” ujar seorang pria warga Indonesia saat bertemu di kantor Sektor Khusus Masjidil Haram. Beberapa aksesori yang dikenakan seperti tali yang dikalungkan di leher ada tulisan Qatar.
Di luar itu, warga Indonesia yang bekerja atau mengaji di Arab Saudi, khususnya di Makkah lumayan banyak. Sebagian dari mereka mengais rezeki dengan menjadi pemandu orang-orang Indonesia yang umrah atau haji. Tenaga mereka biasanya dibutuhkan oleh biro travel yang memberangkatkan umrah atau haji khusus. “Biasanya kalau umrah, setahu saya dihitung harian. Per harinya jadi pemandu 100 riyal. Kadang seminggu, tidak tentu,” ujar Abdurahman Syarifuddin, pria asal Madura, Jawa Timur, ketika ditemui MCH di kantor Misi Haji Indonesia di Syisah, Makkah, kemarin malam (29/10).
Menurut pria yang merantau ke Arab Saudi sejak 1992 itu, dengan mengandalkan honor dari jasa pemandu sudah cukup lumayan bagi yang masih bujangan. Namun, bagi yang sudah berkeluarga, tak cukup mengandalkan itu saja.”Istri kadang kerja di acara pengantin di hotel kalau Kamis dan Jumat. Kalau kerja harian seperti jadi pembantu, khawatir juga,” jelas Abdurahman yang tinggal di Makkah itu.
Pada musim haji seperti saat ini, sebagian warga Indonesia yang tinggal di Arab Saudi dan sekitarnya, biasanya berebut menjadi tenaga musiman (temus) bergabung dengan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji. Mereka berebut, karena honor yang diberikan cukup menggiurkan dibanding dengan jadi pemandu umrah atau pemandu rombongan haji khususâ€"dulu namanya ONH plus. “Kalau jadi pemandu totalnya sekitar 7 ribu riyal. Waktunya sekitar 40 hari-an. Kalau jadi temus, meski dua bulan lebih, dapatnya lebih dari itu. Jauhlah. Makanya yang antre mendaftar banyak,” imbuh Musfik, pria asal Madura yang telah tinggal di Arab Saudi selama 3 tahun.
Temus ini direkrut tidak hanya dari mukimin saja. Dari kalangan mahasiswa yang menimba ilmu di Timur Tengah juga banyak. Di antaranya dari Mesir, Yordania, Sudan, Yaman, dan Tunisia. Mereka sebagian besar mahasiswa semester akhir. Bahkan ada yang telah menyelesaikan S1 dan sembari menunggu S2, ikut menjadi temus. “Lagi nunggu pengumaman tes S2,” ujar Faizin, mahasiswa Indonesia asal Aceh yang telah menyelesaikan S1 di Universitas Zaytuna.
Menurut Abdurahman, dirinya menjadi temus sudah empat kali. Sejak 2008. “Kalau dulu, honornya tak jauh dari pemandu umrah atau haji khusus. Tapi, sejak 2008 meningkat terus. Ini yang membuat pendaftar banyak sekali. Tahun ini saja pendaftar dari mukimin seribu lebih. Yang diambil 300 berapa gitu. Ini belum yang dari mahasiswa,” imbuh bapak dua anak itu. Saat kali pertama dirinya jadi temus pada 2008, honor yang diterima sekitar 14 ribu riyal. Tahun berikutnya sekitar 16 ribu riyal dan pada tahun lalu sekitar 18 ribu riyal.”Tahun ini belum tahu,” ujar pria yang ditempatkan di bagian kebersihan itu.
Untuk menjadi temus, mereka harus melalui seleksi. Selain administratif, ada ujian tulis dan praktik. “Kalau tes tulisnya sama. Baik yang kebersihan, sopir atau bagian lainnya sama. Di anya seputar manasik haji. Ada juga pertanyaan terkait Pancasila. Kalau praktiknya, yang bagian kebersihan terkait kebersihan, yang sopir praktik nyetir. Hanya yang bagian kebersihan tidak disyaratakan melampirkan ijazah,” jelas Abdurahman yang berencana pulang kampung untuk selamanya setelah musim haji ini.
Selain di Derah Kerja Makkah, para temus yang membantu Panitia Penyelenggara Ibadah Haji itu juga ditugaskan di kantor Daerah Kerja Madinah dan Jeddah. Mereka ada yang di bagian kesekretariatan, pelayanan umum, penerangan, transportasi, pengemudi, mekanik, tanazul, dan pengamanan. Di kantor Daerah Kerja Makkah, jumlah temus sedikitnya 60 orang. (m izzul mutho/bersambung)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Jeddah (MCH)–Mantan Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) Saifullah Yusuf menegaskan, penyelenggaraan haji tahun ini dinilai lebih baik dari tahun sebelumnya. Pasalnya, pelayanan yang dilakukan terhadap calon jemaah haji sejak dari pelunasan sampai berangkat dan tiba di Arab Saudi dapat berjalan lancar.
“Saya melihat sistem pembayaran haji sudah bagus. Begitu juga pelayanan di bandaranya,” kata Saifullah Yusuf di Bandara King Abdul Azis Jeddah, Minggu (30/10). Ia menyebutkan, keberangkatannya ke Tanah Suci tahun ini merupakan kedua dan bersama istrinya. Sedang keberangkatan pertama tahun 2000, tetapi sendirian.
Wakil Gubernur Jawa Timur ini juga menjelasdkan, satu sisi pelayanan meningkat, namun sisi lainnya menghadapi masdalah yakni menynagkut rumusan kuota yang belum ada perubahan. Pasalnya, dalam hal ini setiap tahunnya antrean semakin panjang.
“Ini juga tidak lepas dari meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Gus Ipul seraya menyebutkan, ongkos haji juga tidak mahal yakni Rp26 juta lebih dan mendapat subsidi Rp7 juta. Karena itu, antrean untuk Jawa Timur saat ini semakin panjang dengan lama menunggu 5 tahun sampai 7 tahun.
Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh Kementerian Agama H Slamet Riyanto juga menilai persiapan pelaksanaan ibadah haji Indonesia tahun 1432 H/2011 jauh lebih bagus dibandingkan tahun-tahun lalu “Karena itu, secara umum tahun ini jauh lebih bagus dibanding tahun lalu,” tuturnya.
Slamet juga menegaskan, mengenai tansportasi, dimana-mana jadi masalah. Namun, pemerintah berusaha untuk terus mengatasinya.
Mengenai adanya peningkatan persiapan dan pelayanan yang lebih baik tahun ini juga disampaikan anggota Komisi VIII DPR RI Hj Chairunnisa di Jeddah. Mulai dari embarkasi hingga ke Arab Saudi relatif lebih baik dibandingkan tahun lalu. Demikian juga pondokan di Makkah, dari hasil pantauannya diakui lebih bagus dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Ia menyatakan akan melihat ke lapangan untuk melihat langsung pondokan, transportasi, dan katering. Namun begitu, Chairunnisa menyatakan juga merasa prihatin mengetahui jemaah dari Indonesia naik kendaraan-kendaraan bak terbuka untuk menuju ke Masjidil Haram atau saat pulang ke pondokan.
“Kan yang lebih dari dua klometer disiapkan bus-bus. Mungkin yang naik kendaraan bak terbuka, kurang dari dua kilometer itu tidak mau jalan kaki,” tandasnya. (syaifullah hadmar)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Mekkah(MCH)–Calon haji (calhaj) Indonesia yang tersesat jumlahnya masih banyak. Jumlahnya hingga pekan kemarin setiap harinya masih ratusan. Biasanya yang paling banyak setelah habis Subuh. “100 orang lebih setiap harinya,” ujar Kepala Sektor Khusus H. Maskat kepada MCH, beberapa hari lalu.
Sebenarnya, di sekitar Masjidil Haram ada beberapa peta besar yang bisa membantu memudahkan setiap orang mengetahui detail denah Masjidil Haram serta jalan atau daerah penginapan atau tempat tinggalnya di Makkah.
Ketika itu, sepanjang pantauan MCH di sekitar peta yang di antaranya tertempel di dinding luar tempat wudlu dan toilet dekat pintu keluar sai atau seberang Maulid Nabi, mereka yang melihat dan memperhatikan peta itu hampir tidak ada orang Indonesia. Saat itu ada beberapa orang China dan orang Turki yang tampak dengan seksama memperhatikan denah yang ada di peta. Barangkali, kalau peta-peta yang ada itu diperhatikan dengan teliti, calhaj Indonesia yang bingung pulang ke pemondokan dapat terbantu. Atau setidaknya dapat mengetahui lokasi Masjidil Haram secara jelas. (m izzul mutho)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Mekkah(MCH)–Jumlah jamaah calon haji Indonesia yang wafat hingga Minggu (30/10) pukul 14.35 waktu Arab Saudi (WAS) atau 18.35 WIB mencapai 81 orang yang terdiri atas 79 orang merupakan haji reguler dan dua orang haji khusus atau yang lebih dikenal ONH Plus.
Data Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Kementerian Agama di Mekah, Minggu, menyunjukkan jamaah wafat terbanyak berasal dari embarkasi SUB (Surabaya) sebanyak 15 orang, disusul embarkasi SOC (Solo) 13 orang, embarkasi MES (Medan), JKG (DKI Jakarta) serta JKS (Jawa Barat) masing-masing 10 orang, serta embarkasi UPG (Makassar) delapan orang.
Sementara jamaah calon haji Indonesia yang saat ini sudah berada di Arab Saudi mencapai 193.552 orang atau 95,72 persen.
Jamaah yang sudah berada di Arab Saudi terbanyak berasal dari embarkasi SUB sebanyak 37.446 orang, embarkasi JKS sebanyak 36.235 orang, embarkasi SOC sebesar 32.915 orang serta embarkasi JKS 22.499 orang.
Kepala Daerah Kerja (Kadaker) Mekah Arsyad Hidayat mengatakan, batas akhir (closing date) kedatangan jamaah calon haji sesuai keputusan Pemerintah Arab Saudi adalah tanggal 31 Oktober pukul 24.00 WAS atau 04.00 WIB tanggal 1 November.
“Setelah tanggal dan jam itu maka tidak ada lagi pesawat dan jamaah yang mendarat dan tiba di bandara udara di Jedah dan Madinah. Jadi seluruh kedatangan harus sebelum jam 24.00 waktu setempat,” kata Arsyad.
Dia mengatakan, jamaah calon haji Indonesia baik yang reguler maupun haji khusus asal Indonesia diharapkan sudah berada di Arab Saudi sebelum jam tersebut agar tidak ada masalah.
Seluruh jamaah Indonesia yang tiba di Arab Saudi pada hari-hari terakhir ini menjelang puncak haji atau wukuf di Arafah, kata Arsyad, bergerak menuju Mekah sebagai persiapan pelaksanaan ke Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armina).(ahmad wijaya)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Mekkah (MCH)–Banyaknya calon haji (calhaj) Indonesia yang membutuhkan transportasi menuju Masjidil Haram menjadi berkah para sopir. Terutama di daerah-daerah pemondokan Indonesia yang jaraknya di atas 1000 meter dan di bawah 2000 meter.
Sekadar diketahui, calhaj Indonesia yang pemondokannya jaraknya di atas 2000 meter, disediakan transportasi gratis. Nah, bagi calhaj yang tinggal dekat dengan Masjidil Haram, biasanya jalan kaki. Namun, bagi yang pemondokannya di atas 2000 meter seperti di daerah Bakhutmah, mereka kadang ada yang jalan kaki, ada yang menggunakan tranportasi berbayar.
Beberapa calhaj ada yang menggunakan taksi, ada yang menggunakan semacam mini bus. Nah, sebelum Bakhutmah dapat kebijakan oleh Menteri Agama Suryadharma Ali yang menyediakan 10 bus gratis. Beberapa kendaraan yang masih ada tempelannya bendera asing seperti Afganistan digunakan oleh sopirnya mengangkut calhaj Indonesia. Tentunya ini dilakukan oleh sopir untuk menambah penghasilan, karena para calhaj Indonesia yang naik kendaraan ini dipungut ongkos 2 riyal. (m izzul mutho)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Mekkah (MCH)–Suasana Makkah yang benar-benar sudah dipadati jutaang jamaah haji, membuat jamaah haji harus waspada. Mulai saat ini mereka harus menyadari kondisi kesehatan badannya dengan baik. Para jamaah haji usia lanjut atau risiko tinggi (risti), diharapkan tidak memaksakan diri untuk selalu pergi shalat berjamaan di Masjidil Haram.
“Lalu lintas sudah sangat macet. Tak ada lagi mobil yang langsung ke Masjidil Haram. Sebelum sampai di sana mereka diturunkan. Akhirnya, jamaah harus berjalan kaki cukup jauh, sekitar satu kilometer dari pelataran Masjidil Haram,” kata Harsono, petugas pelayanan jamaah tersesat, di Makkah, Senin (30/10).
Menurut dia, jamaah risti memang riskan bila berulangkali bolak-balik berjalan kaki ketika ke Masjidil Haram. Apalagi, kebanyakan dari mereka kerapkali mengalami sesat jalan ketika hendak pulang ke pondokan.
“Bayangkan, di tengah hiruk pikuk jutaan orang di Masjidil Haram mereka tersesat. Apa ini tidak berbahaya bagi kondisi kesehatannya. Lebih baik sekarang tinggal saja di pondokan dahulu. Simpan tenaga untuk ikut acara puncak haji di Arafah yang hanya kurang dari sepekan itu,” ucapnya.
Indikasi jamaah banyak yang sakit memang sudah muncul dalam beberapa hari terakhir. Melalui data jamaah yang berobat di Balai Pengobatan Haji Indonesia di Makkah sebagian besar jamaah yang mengeluh sakit itu terkena flu. Ini terjadi karena kekebalan tubuh mereka menurun akibat kelelahan dan perubahan cuaca.
“Cuaca Makkah memang mulai sedikit mendingin. Ini juga berpengaruh. Apalagi mereka kan kelelahan karena sehabis menempuh perjalanan sangat jauh. Sakit flu itu terjadi karena menurunnya kekebalan tubuh,” kata petugas penghubung kesehatan Daker Makkah, Abdul Hafidz.
Sikap waspada para jamaah juga makin diperlukan saat mereka hendak bepergian. Suasana kota Makkah yang hiruk pikuk dimanfaatkan para penjual jasa angkutan dengan menaikan tarif seenaknya. Angkutan taksi yang dahulu lazimnya seharga rata-rata maksimal 20 real, kini bisa melompat tak keruan harganya, yakni bisa sampai 50 real.
“Tak ada nilai baku harganya. Malah di puncak haji bisa sampai 200 real. Para sopir angkutan itu juga seringkali curang dengan menurunkan penumpang sebelum sampai ke tujuan. Alasanya, mereka klasik, yakni macet atau takut ditangkap polisi karena mobil angkutannya adalah bukan angkutan resmi,” kata Fathor, mukimin Indonesia di Makkah.
Yang lebih parah lagi, lanjut Fathor, kecurangan para sopir angkutan itu kerapkali terjadi bila penumpang yang diangkutnya tak tahu jalan di Makkah. Mereka sengaja memilih jalan-jalan yang macet agar percaya bahwa perjalanan yang ditempuhnya jauh dan lama. “Ini modus lama. Mereka memang sengaja bertindak seperti itu ketika melihat ada orang baru naik ke mobilnya dengan wajah yang kebingungan,” ujarnya.(muhammad subarkah)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
Wagub Jatim: Tangkap Penyelenggara Haji Nonkuota Nakal
Jeddah (MCH)–Kegagalan calon jamaah haji non-kuota asal Pasuruan, Jawa Timur memantik reaksi keras dari Wakil Gubernur Syaifullah Yusuf. Dia meminta agar pihak berwajib menangkap penyelenggara yang terbukti merugikan calon jamaah haji.
“Saya sangat prihatin saat melihat mereka sudah membayar penuh biaya yang diminta oleh penyelenggara, namun tiba-tiba mereka kemudian gagal berangkat,” ujar Syaifullah Yusuf, di Bandara King Abdul Azis, Jeddah, kemarin.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul mengatakan penyelenggaraan haji jelas diatur dalam UU 13/2008. Di situ jelas disebutkan, jika seluruh penyelenggaraan ibadah haji dalam koordinasi Kementerian Agama. Bila ada pihak-pihak yang memberangkatkan jamaah tanpa seizin Kemenag jelas hal itu merupakan pelanggaran hukum. “Apalagi kalau mereka memberangkatkan jamaah non-kuota itu jelas pelanggaran undang-undang dan harus ditindak,” katanya.
Aparat berwajib, lanjut Gus Ipul, harus pro-aktif turun ke lapangan. Apalagi saat ini sudah ada kejadian yang memicu keresahan masyarakat. “Peristiwa di Pasuruan tak menutup kemungkinan terjadi di kota-kota lain di Jawa Timur,” tandasnya.
Namun demikian, kata Gus Ipul, munculnya fenomena haji non-kuota merupakan contoh nyata betapa tingginya antusiasme masyarakat untuk pergi berhaji. Di satu sisi kuota pemberangkatan jamaah haji sangat terbatas. “Tahun ini kuota untuk Jawa Timur hanya 35 ribu kursi, padahal peminatnya jauh lebih besar dari angka itu. Untuk waiting list sudah tujuh tahun,” ujarnya.
Peluang ini, lanjutnya dimanfaatkan oleh sebagian oknum untuk mencari keuntungan sendiri. Mereka memanfaatkan peluang dari jalur non-kuota yang disediakan oleh Kedutaan Arab Saudi di Jakarta. “Kami meminta kepada Kementerian Agama melakukan koordinasi dengan Arab Saudi agar kuota haji tahun depan bisa ditambah,” tegasnya.
Sementara itu Wakil Ketua Komisi VIII DPR Khoirunnisa mengatakan persoalan calon haji non-kuota ini menjadi perhatian pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama. Menurutnya jangan sampai dalam kasus ini masyarakat kembali menjadi korban. “Kami akan meminta Kemenag memberikan perhatian khusus atas persoalan ini,” ujarnya.
Di samping itu, kata Politikus Partai Golkar ini masyarakat juga wajib berhati-hati atas tawaran berangkat haji tanpa melalui sistem yang diatur pemerintah. Seperti melalui mekanisme waitting list, membayar biaya perjalanan ibadah haji di bank pemerintah, dan sebagainya. “Jika ingin jalan pintas, maka mereka juga harus bersiap dengan sekian risiko dari gagal berangkat hingga telantar saat prosesi di Armina,” katanya.
Terpisah Dirjen Penyelenggara Haji dan Umroh Kemenag Slamet Riyanto mengaku akan berkoordinasi dengan aparat terkait untuk membahas persoalan non-kuota ini. Menurutnya persoalan ini tidak bisa diselesaikan Kemenag sendiri, namun juga harus melibatkan aparat terkait seperti polisi, kemenkumham, dan kemenlu. “Kalau dilakukan secara sektoral persoalan ini akan terus berulang dari tahun ke tahun,” katanya. (Suwarno)
Baca Juga Berita Lain Yang Berhubungan Dengan Berita Ini:
0 komentar:
Posting Komentar