Koran Muslim |
| Posted: 19 Feb 2016 09:49 PM PST ![]() Menteri Pertahanan Prancis, Jean-Yves Le Drian (tengah), berbicara dengan Menteri Pertahanan Lebanon, Samir Moqbel (kiri), dan Duta Besar Arab Saudi untuk Lebanon, Ali Awad Assiri (kiri kedua), terlihat di Beirut, Lebanon, Senin 20 April 2015 (AP) Arab Saudi mengatakan pada hari Jum’at, bahwa mereka telah menghentikan program 3 milyar dollar AS untuk pasokan militer ke Lebanon sebagai bentuk protes terhadap Hizbullah, kelompok militan Syi’ah yang bertempur untuk mendukung rezim Suriah. Sebagai tanggapan, Perdana Menteri Lebanon Tammam Salam telah mendesak Arab Saudi untuk mempertimbangkan kembali penghentian paket tersebut. Mengingat posisi-posisi yang telah diambil oleh Hizbullah, kerajaan Arab Saudi melanjutkan untuk “melakukan evaluasi total atas hubungannya dengan republik Lebanon”, kata seorang pejabat yang tak disebutkan namanya kepada Kantor Berita Arab Saudi sebelumnya. Sekutu Teluk setia Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain, menyatakan dukungannya atas keputusan Arab Saudi tersebut. Arab Saudi menambahkan bahwa sisa 1 miliar dollar AS paket pembiayaan untuk pasukan keamanan Lebanon (juga) telah dihentikan, dalam keputusan yang terpisah. Program 3 milyar dollar AS membiayai peralatan militer yang disediakan oleh Perancis. Lebanon telah menerima tahap pertama dari persenjataan yang dirancang untuk memperkuat tentaranya terhadap ancaman militan, termasuk peluru kendali anti-tank, pada bulan April tahun lalu, namun program kemudian dilaporkan menemui hambatan. Terdua pemimpin Hizbullah yang berbasis di Libanon sedang dalam sanksi Arab Saudi. Hizbullah didukung oleh Iran. Dalam pernyataan itu, para pejabat Saudi mengatakan Riyadh selalu berdiri dengan Lebanon dan mendukung negara tersebut melalui masa-masa sulit. “Meskipun ada pendirian terhormat ini, Kerajaan Arab Saudi telah menjumpai pendirian Lebanon yang bertentangan dengan ini di arena Arab, regional dan internasional, dalam bayang-bayang pengambil-alihan kehendak negara oleh yang disebut Hizbullah Lebanon,” kata pernyataan itu. Hizbullah adalah kelompok Syi’ah yang didukung Iran yang mempunyai kekuasaan besar di Lebanon. Muslim Sunni Arab Saudi adalah lawan Syi’ah Iran. Pernyataan SPA menyebutkan bahwa Lebanon, pada pertemuan Liga Arab dan Organisasi Konferensi Islam baru-baru ini, telah gagal untuk mengutuk “agresi terang-terangan di kedutaan Kerajaan Arab Saudi itu di Teheran dan konsulatnya di Mashhad,” pada bulan lalu. Yaitu serangan oleh demonstran Iran yang memprotes atas eksekusi oleh Riyadh terhadap Syi’ah Arab yang dihukum karena melakukan penghasutan untuk melakukan kekerasan. Arab Saudi memutuskan hubungan diplomatik dengan Iran atas serangan terhadap misi-misinya. (Al Arabiya) |
| ISIS Merekrut Anak-anak pada Tingkat ‘yang Belum Pernah Terjadi Sebelumnya’ Posted: 19 Feb 2016 08:31 PM PST ![]() Pemuda berjalan di bawah bendera ISIS di kamp pengungsi Palestina Ain al-Hilwah, dekat kota-pelabuhan Sidon, selatan Lebanon pada 19 Januari 2016 (Reuters) ISIS telah meningkatkan perekrutannya terhadap anak-anak di jumlah “yang meningkat dan belum pernah terjadi sebelumnya” selama tahun lalu, menurut sebuah penelitian AS yang dirilis pekan ini, selagi kekuatan-kekuatan asing terus merangsek ke wilayah kelompok ini dari udara. Penelitian ini, yang dilakukan lebih dari 13 bulan oleh para peneliti dari Universitas Negara Bagian Georgia, telah meneliti pemberitahuan kematian dari 89 anak-anak dan pemuda di Twitter dan di aplikasi komunikasi terenkripsi Telegram. Temuan menunjukkan bahwa tingkat kematian pemuda ISIS pada bulan Januari tahun ini meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan waktu yang sama tahun lalu. 39 persen anak usia di bawah 18 tahun yang digunakan untuk mengemudikan kendaraan sarat bahan peledak ke tempat musuh, sementara 33 persen meninggal sebagai prajurit infanteri. Kemudian, 18 persen meninggal di pertempuran sebelum membunuh diri mereka sendiri dengan meledakkan sabuk bunuh diri, menurut penelitian ini. “Tampaknya masuk akal bahwa, selagi tekanan militer terhadap ISIS meningkat dalam beberapa bulan terakhir, operasi tersebut … menjadi lebih menarik secara taktis,” kata studi tersebut. Bukan Keputus-Asaan “Kita dapat menduga bahwa, seiring penerapan mereka meningkat, demikian juga tingkat kematian anak dan pemuda yang dilaporkan.” Akan tetapi, penggunaan anak-anak oleh kelompok militan ini mungkin bukan karena keputus-asaan atau upaya untuk mengisi jajaran. Sebaliknya, “anak-anak berjuang bersama, bukan sebagai pengganti, laki-laki dewasa,” menurut penelitian. Data menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak yang meninggal dalam misi ISIS adalah Irak atau Suriah, sementara separuhnya tewas di Irak. Propaganda ISIS tidak tampak untuk memilih anak-anak sebagai pahlawan muda. “Usia sebenarnya dari martir tidak pernah disebutkan, bahkan secara sepintas,” menurut laporan tersebut. “Bagi propagandis ISIS, usia muda para martir tidak penting.” (Al Arabiya) |
| You are subscribed to email updates from Koran Muslim. To stop receiving these emails, you may unsubscribe now. | Email delivery powered by Google |
| Google Inc., 1600 Amphitheatre Parkway, Mountain View, CA 94043, United States | |



0 komentar:
Posting Komentar